KARAWANG– Upaya Pemerintah Daerah Karawang dalam mengatasi banjir yang telah terjadi di Desa Karangligar selama belasan tahun
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Kepala BBWS Citarum dengan Forkopimda Karawang melihat titik awal terjadinya banjir di Karangligar. Saan Mustofa, Wakil Ketua DPR RI menyampaikan kegiatan tersebut agar mencari penyelesaian persoalan banjir yang selalu terjadi di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat.
“Saya melakukan kunjungan kerja sebagai wakil ketua DPR RI ke Karawang, melihat secara langsung untuk mencari penanganan banjir di sini. Kepala BBWS Citarum sudah punya beberapa rencana untuk menyelesaikan persoalan banjir abadi di daerah sini,” ujarnya
Kemudian Dian Alma’ruf, Kepala BBWS mengungkapkan banjir yang terjadi di wilayah tersebut akibat adanya back water dari Cibeet. Setelah itu terjadi back water ke Cidawolong dan Kedunghurang.
“Ini sudah menjadi tempat kajian kami di BBWS Citarum. Banjir yang terjadi di sini akibat air dari Sungai Cibeet tidak bisa langsung masuk ke Citarum, ketika Citarum besar dan Cibeet besar maka Cibeet tertahan sehingga mengakibatkan back water. Back water Cibeet ini mengakibatkan back water di Cidawolong dan Kedunghurang,” ungkapnya
Pihaknya telah membangun 3 bendungan sekaligus di Bogor sebagai langkah untuk jangka panjang. Bendungan itu akan selesai dibangun pada tahun 2029 mendatang.
“Sudah ada dilakukan upaya jangka panjang dengan dibangunnya Bendungan Cibeet di Bogor dapat mereduksi banjir 30 persen air yang masuk ke Sungai Cibeet termasuk Cijurai. Rencana akan dibangun 3 bendungan di sana, Cibeet, Cijurai dan Cipamingkis mudah-mudahan 2029 sudah selesai,” tambahnya.
Meski begitu pihaknya pun telah menyediakan langkah jangka menengah dengan menyiapkan desain untuk melakukan normalisasi Sungai Cidawolong. Setelah itu akan membangun pintu air.
“Kami juga melakukan desain supaya back water dari Cidawolong tidak terjadi terus menerus. Rencananya di Cidawolong akan dilakukan normalisasi sesuai dengan desain yang sudah kita buat, kemudian akan memasang pintu. Banjir yang terjadi sekarang masih belum tertinggi sekitar 85 hektar, menurut analisa kami akan terjadi banjir 135 hektar,” jelasnya
Adanya pintu air dapat menahan masuknya air dari Cibeet dan Cidawolong. Selanjutnya air akan di pompa menuju Sungai Cibeet. Hal ini ditafsirkan akan menggunakan anggaran sebesar 80 hingga 100 milliar.
“Setelah pintu akan dipasang kolam retensi di sebelahnya untuk memarkirkan air dan kemudian di pompa ke Cibeet sehingga pengurangan air disini tergantung dari kapasitas pompa. Kalau sudah bisa kita tangani akan menyisakan 17 sampai 40 hektar genangan. Mudah-mudahan tahun 2025 bisa kita lakukan. Desain belum lengkap tapi tafsiran 80 sampai 100 milliar,” terangnya
Bupati Karawang, Aep Syaepuloh mengungkapkan pemerintah daerah akan melakukan pembebasan lahan seluas 1 hektar untuk menerapkan upaya tersebut. Pembebasan lahan akan mulai terlaksanakan di tahun 2025..
“Kita pemerintah daerah Karawang menginginkan ada sinergitas. Akan ada kolam retensi dan memerlukan lahan tanah seluas 1 hektar dan ada dua titik yang akan kami siapkan. Mudah-mudahan bisa ditindaklanjuti di tahun 2025,” pungkasnya.(red/fj)